Jika Hasilnya Bagus, Vaksin Merah Putih untuk COVID-19 akan Tersedia pada 2022

Vaksin untuk menangkal penyakit yang disebabkan virus corona jenis baru, COVID-19, menjadi harapan bagi setiap negara yang terpapar penyakit mematikan ini. COVID-19 masih melanda di hampir seluruh negara di dunia. Sebagian negara bahkan dikabarkan mulai memasuki gelombang kedua pandemik.

Pemerintah Indonesia melalui PT Bio Farma pun berencana mengembangkan vaksin COVID-19. Bio Farma, selaku induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi, akan menggandeng Tiongkok untuk mengembangkan pembuatan vaksin virus corona di dalam negeri.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya masih melakukan komunikasi dengan lembaga vaksin di Tiongkok yang bernama Sinovac. Saat ini, Tiongkok sudah memiliki vaksin yang sedang dalam uji klinis tahap kedua.

“Kami juga lagi lakukan koordinasi dengan mereka, bagaimana kalau seandainya vaksin uji klinis berikutnya serta juga untuk proses pembikinan massalnya itu nanti bisa dilakukan di Bio Farma,” kata dia dalam RDP dengan Komisi VI DPR secara virtual, Selasa (21/4).

Selain itu, Bio Farma juga berencana melakukan kolaborasi dengan lembaga The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Hingga saat ini, lembaga tersebut sedang meninjau proposal yang telah dikirimkan Bio Farma ke CEPI.

Kandidat Doktor bidang Rekayasa Genetik dan peneliti vaksin Universitas Oxford, Muhammad Hanafi mengungkapkan saat ini sudah ada 95 sampai 100 vaksin untuk COVID-19 yang dikembangkan perusahaan dan universitas di seluruh dunia. Namun, dari jumlah tersebut hanya 33,4 persen atau sekitar lima atau enam vaksin yang sukses masuk clinical trial phase atau uji coba dalam manusia.

“Sebagian besar masih dikembangkan di lab bukan dalam pengujian manusia. Salah satu yang sudah diujikan masuk ke clinical trial atau uji klinis dan sudah diujikan ke manusia adalah vaksin yang dikembangkan di Oxford,” kata Hanafi, Sabtu (9/5).

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan proses pengembangan vaksin Merah Putih baru mencapai 20-30 persen. Menurut Amin, yang ditemukan baru sebatas fondasi. Mereka yang tergabung dalam Konsorsium Nasional untuk mengerjakan itu adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga riset Eijkman Institute, kementerian terkait, institusi, perguruan tinggi, juga BUMN farmasi Bio Farma.

Amin mengatakan pihaknya telah mengamplifikasi bagian virus SARS-CoV-2, yaitu protein S dan N. Kendati membutuhkan waktu lama, gen tersebut telah diperbanyak dan diuji coba ke dalam sel hewan mamalia. Nantinya akan didapatkan protein rekombinan.

“Lalu, akan diteliti lebih lanjut apakah bisa merangsang respons imun. Awalnya akan diujikan ke hewan kecil, lalu hewan yang lebih besar. Kalau hasilnya bagus akan kami serahkan ke industri,” katanya.

Presiden Direktur Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya, Konsorsium Nasional untuk mengembangkan vaksin COVID-19 lokal. Konsorsium itu akan mengembangkan prototipe vaksin COVID-19 dalam sebuhah proyek jangka panjang. Klon prototipe tersebut ditargetkan dapat dihasilkan pada Februari 2021.

Bio Farma secara bertahap akan melanjutkan pada tingkat pengembangan. Hal itu dimulai dengan pembangunan optimalisasi proses Master and Working Cell Bank serta produksi lot eksperimen dan scaling up.

“Studi praklinis akan dilakukan triwulan II-2021 diikuti fase pertama uji klinis yang diperkirakan pada triwulan III-2021. Jika hasilnya bagus, mungkin vaksin akan tersedia triwulan I-2022,” kata Basyir.

(disadur dari idntimes.com)

Portal Media Entertainment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
error

LIONTIVI Portal Media Entertainment