Cerminan Ku di Lemari Tua yang Melototiku.. Dan Lima Sosok yang Menghilang ke Lemari Tua

Aku lahir di Bandung, dan juga besar di Bandung, bersama Papa, Mama, kakakku dan juga adikku. Kita tinggal di Bandung dengan suasana yang sangat dingin, karena kita suka sama suasana yang asri. Dan sebenernya gak ada yang salah dengan rumah itu. Tetapi akhirnya kita mulai merasakan sesuatu yang agak sedikit tidak enak, ketika di rumah ada sesuatu barang antik. Kita tidak tau harus taruh dimana barang itu. Dan akulah yang harus mengalah, di kamar akulah barang aku harus ditaro. Dan barang antic itu berupa lemari.

Malem aku tidur, aku rep-repan. Aku hanya bisa memandang satu arah, sampe rep-repan itu selesai. Jadi karena waktu itu aku dalam posisi miring, yang aku liat hanya sekitar lantai. Aku liat sosok hitam dari pinggang sampai ke kaki. Aku kaget, terus ilang tuh yang aku liat.

Terus rep-repannya ilang, aku bangun. Karena gak bisa tidur lagi, aku baca komik. Baca-baca komik, eh ketiduran. Tapi aku merasa tidak enak badanku, karena aku merasa kedinginan. Dan akhirnya aku terbangun. Setelah sadar, ternyata selimut yang tadi aku kenakan udah jauh dari posisi aku.

Aku selimutan lagi, tiba-tiba aku ngerasa selimut aku kayak ditarik ke bawah gitu. Aku bangun lagi, aku denger kayak ada yang jatoh. Pas aku cek, ternyata mama aku yang jatuh, tepat di depan pintu kamar aku. “Ma, mama. Mama kenapa? Bangun, Ma?”. “Loh? Mama kenapa? Mama dimana?, kata mama aku gitu. Mama aku sama aku ngerasa aneh, tiba-tiba lemari tua itu kebuka, “BRAKK!!” kenceng banget. Seperti ada orang yang lemari itu.

Tapi pada saat itu aku gak mau mikir macem-macem, aku cuma mau nolongin mama yang baru jatoh. Walaupun aku heran, siapa yang membuka lemari itu.

Pernah di siang hari, di siang hari ya. Aku dari kecil mikir, aku percaya yang namanya hal gaib-gaib itu selalu datang di malam hari. Jadi kalo di siang hari aku merasa aman-aman aja, dan lebih berani.

Jadi siang-siang itu aku lagi siap-siap, aku ngaca di depan lemari tua make sweater yang aku lilit di leher. Aku udah selesai ngaca, seper sekian detik aku mau balik badan, itu pantulan aku di cermin dia kayak melototin aku. Aku kaget. Karena masih di siang hari, aku berani. Aku mencoba untuk menantang momen itu. Menantang dengan, “Wah! Apa benar ya kalo di film horor itu… kejadian gak ya??”. Aku depan kaca, aku senyum, aku lambaiin tangan, aku cemberut, aku senyum lagi. Anehnya adalah tiba-tiba cerminan diri aku tidak ikut senyum. “Ini pasti ada yang gak beres!! aku langsung lari!!”

Semakin lama aku semakin menyadari, kalo ada yang bener dari lemari itu. Aku semakin menemukan hal-hal yang buat aku gak wajar. Tapi aku tetep mencoba untuk berpikir positif, kalo sesuatu yang terjadi karena rasa takutku yang begitu besar, halusinasi aku yang terlalu tinggi.

Ada satu kejadian, tapi ini yang paling gongnya. Ketika aku lagi tidur di kamar, aku rep-repan. Aku liat lima orang, mereka semua terlihat pucat. Seperti orang jaman dulu. Dan aku heran, kok bisa ya ada lima orang mengelilingi kasurku, mereka melihat aku dengan tatapan yang sangat kosong. Sementara aku kaget, aku pada saat itu gak bisa ngapa-ngapain. Karena pada saat itu aku lagi rep-repan, badanku kaku banget. Aku cuma bisa melihat mereka, mereka jalan-jalan satu menuju lemari tua itu, udah deket lemari mereka tiba-tiba ilang.

Itu adalah kejadian yang sangat besar sekali buat aku. Akhrinya aku bener-bener yakin kalo ada sesuat yang bener-bener gak beres di lemari itu.

Tapi aku harus melanjutkan karir aku di Jakarta, dan aku pindah ke Jakarta. Aku mendapat kabar kalo orang tua aku mau melakukan renovasi besar-besaran di rumah aku. Dan juga menggantikan interior lebih modern lagi, secara otomatis lemari tua itu tidak perlukan lagi.

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: