Fenomena Split Bill Saat Kencan Pertama, Wajar Atau Tidak? Begini Menurut Psikolog

Sharing is caring

Jagat Twitter kemarin tengah ramai dengan perdebatan soal “Split Bill” yang awalnya dilempar oleh akun @Pumkiynnne yang mengaku jika temannya akun @maccxelen merasa dirugikan oleh tindakan akun  @tikotapicokin karena diminta untuk ikut membayar tagihan saat diajak kencan pertama, yang sebelumnya total pembayaran tersebut sudah dibagi rata oleh @tikotapicokin.

Tindakan tersebut dinilai kurang etis bagi @Pumkiynne, karena mungkin didalam lingkungan sosial yang ia anut, tradisi membayar tagihan makan saat kencan pertama adalah tanggung jawab Pria yang mengajak kencan.

Hal tersebut membuat Jay pria pemilik akun @tikotapicoin membuat pernyataan klarifikasi dari statement @Pumkiynne dan mengaku bahwa dirinya adalah penganut konsep ‘you pay for what you want’ dengan catatan dibagi rata dengan orang tersebut. Jay pun mengungkapkan walaupun pihak cowok yang mengajak ketemuan, segeala tetek bengek pembayaran harus dibayar berdua karena perempuan tersebut diajak ‘consent’ tanpa ada iming-iming ‘the bills are on me’.

Fenomena ‘Split Bill’ pun selalu ramai menjadi perbincangan karena ada beberapa sebagian orang mengganggap hal tersebut tidak beretika, namun sebagian lagi beranggapan jika pembayaran harus dilakukan berdua agar adil atau karena tidak ingin merasa memiliki hutang budi kedepan. Di Indonesia sendiri, budaya ‘Spli Bill’ terasa asing dan dianggap kurang etis dilakukan, dimana di belahan negara lain seperti Amerika, ‘Split Bill’ telah ada sejak tahun 1960, tepatnya era feninisme gelombang kedua.

Banyak orang setuju jika uang merupakan hal yang sangat sensitif untuk dibahas, apalagi jika baru mejalani kencan pertama. Namun sebagian orang berfikir jika tagihan saat kencan adalah ranah pria yang masuk sebagai nilai etika tanggung jawab. Namun ada juga sebagian wanita lain yang berpendapat jika dirinya cukup mampu membayar tagihan, sehingga tidak perlu merepotkan pria yang mengajak.

Menurut psikolog klinis Pro Help Center Nuzulia Rahma Tristinarum, tidak ada yang sepenuhnya benar dan salah. Pandangan tersebut tergantung dengan nilai atau value yang dipahami setiap orang.
Rahma menjelaskan, yang menjadi masalah ketika orang tersebut tidak bisa membuka diri pada perbedaan nilai atau value berbeda dengan dirinya. Ini yang kemudian memicu konflik.

 Jadi kalian sendiri termasuk pro ‘split bill’ atau tidak?

liontivi

Media Berita Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.