Wisata Goa dan Masjid Bawah Tanah di Indonesia, Bikin Takjub

Berwisata tidak harus selalu ke pantai atau gunung dengan pemandangan alam yang luas. Sesekali, cobalah untuk berwisata ke tempat yang tidak biasa, seperti wisata di dalam tanah.

Tidak hanya unik dan menantang, mengunjungi objek wisata bawah tanah juga akan memberikan kamu pengalaman yang tidak terlupakan.

Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, sebab Indonesia sendiri memiliki beberapa objek wisata bawah tanah yang bisa kamu kunjungi, loh!

1. Masjid Aschabul Kahfi

Masjid Aschabul Kahfi memiliki luas bangunan 3 hektare. Hanya saja, karena letak masjid ini ada di bawah tanah, jadi tidak terlihat terlalu besar.

Masjid ini memang dibangun dengan memanfaatkan goa yang tidak terpakai dan berdiri di tahun 2002 di Wire, Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Stalagtit yang menggantung di langit-langit goa turut menambah keunikan dan keindahan dari masjid bawah tanah ini.

Selain itu, keistimewaan lain dari masjid Aschabul Kahfi adalah karena letaknya di bawah tanah, yang membuatnya tidak terpengaruh cemaran polusi udara dari luar ataupun suara berisik dari kendaraan yang lalu lalang sehingga jemaah dapat beribadah dengan khusyuk di dalam masjid.

2. Goa Petruk

Goa Petruk berlokasi di Jalan Goa Petruk, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Keunikan dari objek wisata bawah tanah ini adalah karena adanya bebatuan yang berwarna putih nan indah di dalam goa dan terbentuk secara alami. Tak hanya itu, di dalam Goa Petruk juga terdapat air terjun yang tampilannya mirip seperti busa sabun.

Dinamai Goa Petruk lantaran adanya batu yang bentuknya mirip seperti Petruk pada tokoh Punokawan di dalam goa ini. Sayangnya, batu tersebut sudah lama menghilang akibat aktivitas penambangan yang dilakukan pada masa kolonial Belanda. Kendati demikian, hal tersebut tidak mengurangi keistimewaan dan daya tarik dari gua ini.

Secara keseluruhan, goa ini memiliki panjang 2 km. Dan sebelum memasuki goa ini pengunjung harus sudah siap dengan headlamp, sepatu boots, helm, serta kamera untuk mengabadikan momen selama berada di dalam goa.

3. Goa Pulejajar

Goa Pulejajar berjarak 78 km dari pusat kota Yogyakarta atau tepatnya di Pendowo, Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta; tidak jauh dari Pantai Wedi Ombo. Salah satu keunikan dari Goa Pulejajar ini adalah adanya sungai bawah tanah serta air terjun di dalam goa.

Untuk memasuki Goa Pulejajar, pengunjung harus melewati lorong vertikal dengan ukuran yang semakin dalam semakin sempit dan pengap.

Dasar dari Goa Pulejajar ini adalah sungai dengan air yang mengalir dengan deras serta air terjun. Goa Pulejajar sebenarnya bukanlah goa yang dibuka untuk pengunjung yang ingin berwisata mengingat aksesnya yang cukup ekstrem. Pengunjung goa ini rata-rata adalah para pencinta alam dan mereka yang memang ingin mempelajari goa.

4. Masjid Taman Sari

Masjid Taman Sari sebenarnya memiliki nama Sumur Gumuling, yang terletak di area bangunan Taman Sari.

Masjid ini memiliki arsitektur melingkar lengkap dengan beberapa ventilasi, sehingga tetap dapat dimasuki cahaya matahari kendati lokasinya berada di bawah tanah.

Desain bangunan Masjid Taman Sari terbagi menjadi 2 lantai; masing-masing lantai untuk jamaah laki-laki dan jamaah perempuan. Antara lantai 1 dan 2 dihubungkan dengan anak tangga berjumlah lima buah yang terletak di tengah masjid.

Selain itu, bentuknya yang melingkar membuat suara muazin menggema dan dapat terdengar hingga ke seluruh ruangan masjid walaupun muazin tidak menggunakan pengeras suara.

5. Goa Cerme

Goa Cerme merupakan gua horizontal yang memiliki panjang kurang lebih 1,2 km. Di dasar goa terdapat aliran sungai dengan kedalaman yang beragam; ada yang hanya setinggi mata kaki, tapi ada juga yang sampai setinggi pinggang orang dewasa.

Selain itu, atap goa ini juga memiliki ketinggian yang bermacam-macam, bahkan ada yang hanya berukuran 1 meter. Sehingga, jika kamu melewati lorong dengan ketinggian atap paling rendah, kamu hanya bisa berjalan dengan cara berjongkok atau bahkan merangkak.

Konon, orang yang pertama kali menemukan Goa Cerme adalah Sunan Kalijaga yang kala itu digunakan sebagai tempat berdakwah. Baru pada tahun 1980-an, Goa Cerme dibuka untuk umum sebagai tempat wisata.

(disadur dari idntimes.com/Eka Ami)

liontivi

Media Berita Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *